Aksara4.id – Inflasi di Provinsi Jambi pada Juli 2024 tercatat sebesar 2,14% (yoy), menunjukkan tren melandai dan tetap berada dalam rentang sasaran.
Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), secara bulanan Jambi mengalami deflasi sebesar -0,82% (mtm), lebih rendah dibandingkan deflasi nasional yang tercatat sebesar -0,18% (mtm).
Secara tahunan, inflasi di Provinsi Jambi mencapai 0,90% (ytd) dan 2,14% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan laju inflasi nasional yang berada pada 0,89% (ytd) dan 2,13% (yoy). Deflasi bulanan ini terutama disebabkan oleh penurunan harga pada komoditas utama seperti Cabai Merah, Bawang Merah, Daging Ayam Ras, Cabai Hijau, dan Tomat.
“Penurunan harga Daging Ayam Ras ini didorong oleh normalisasi harga sejalan dengan berlalunya serangkaian hari libur nasional dan pesta masyarakat,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Warsono, dalam keterangan resminya, Senin (6/8).
Ia juga menambahkan bahwa masuknya periode tahun ajaran baru memicu rumah tangga untuk menurunkan tingkat permintaan produk non-pendidikan, sementara penurunan harga jagung pakan turut mempengaruhi harga Daging Ayam Ras. Lebih lanjut, penurunan harga Cabai Merah, Cabai Hijau, dan Bawang Merah dipengaruhi oleh stabilisasi pasokan di tengah musim panen raya di Jambi dan daerah pemasok lainnya, seperti Pulau Jawa.
“Panen Raya Tomat di Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Muaro Jambi juga berkontribusi pada penurunan harga Tomat,” tambah Warsono.
Namun, deflasi bulanan ini tertahan oleh peningkatan harga beberapa komoditas seperti Ikan Serai, Sigaret Kretek Mesin (SKM), Ikan Tongkol, Minyak Goreng, dan Cabai Rawit. Peningkatan harga Ikan Serai dan Ikan Tongkol diindikasikan akibat keterbatasan pasokan dari daerah pemasok di Sumatera Barat yang masuk ke Kabupaten Kerinci.
“Kenaikan harga Sigaret Kretek Mesin (SKM) dipengaruhi oleh penyesuaian harga produsen akibat kebijakan peningkatan Cukai Hasil Tembakau (CHT) oleh Kemenkeu sejak Januari 2024,” jelas Warsono.
Selain itu, peningkatan harga Minyak Goreng juga terjadi akibat penetapan kebijakan peningkatan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita sebesar 12% oleh Kemendag pada akhir Juli 2024.
Rincian perkembangan inflasi di beberapa daerah di Provinsi Jambi menunjukkan bahwa Kota Jambi mengalami deflasi bulanan sebesar -0,84% (mtm), Kabupaten Bungo sebesar -0,30% (mtm), dan Kabupaten Kerinci mencatat deflasi terbesar sebesar -0,99% (mtm).
Ke depan, Provinsi Jambi diperkirakan akan mengalami peningkatan inflasi, terutama pada kelompok Volatile Food akibat penurunan produktivitas pertanian di tengah musim kemarau.
“Inflasi juga akan dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas inti seperti Emas Perhiasan serta sejumlah komoditas Administered Price akibat penyesuaian tarif daerah pada Semester III,” ungkap Warsono.
Untuk mengantisipasi potensi risiko ini, Bank Indonesia Provinsi Jambi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan.
“Kami akan melanjutkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gerakan Pangan Murah (GPM) secara serentak untuk menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi,” tutup Warsono. (GS)






































Discussion about this post